Cerita(nya) Developer

Developer inspiratif bercerita tentang bagaimana mereka memulai menjadi developer.

devs[3] = Shabrina Virta Inmas

Bahagia itu sederhana. Bisa vim plugin itu bahagia. Selama dua tahun saya menggunakan vim tanpa plugin sama sekali. Saya tidak tahu vim itu bisa diinstal plugin.

― Shabrina Virta Inmas

Delapan tahun menuntut ilmu di Ankara, Turki, Shabrina kemudian memutuskan untuk pulang ke Indonesia. Setelah sempat menjadi Production Assistant di sebuah perusahaan berita, kemudian Shabrina bertransformasi menjadi developer dengan bergabung ke coding bootcamp Hacktiv8 .

Tidak butuh waktu yang lama, setelah lulus Hacktiv8 Shabrina memulai karir developernya dengan bergabung bersama sebuah startup fintech Xendit sebagai intern hingga sekarang baru saja menerima tawaran dari startup lainnya, Pomona .

Alasan Shabrina ingin menjadi developer sebenarnya cukup unik. Ia mengaku ingin membuat sesuatu yang terlihat dan bisa diperlihatkan ke orang banyak. Berbeda dengan saat di teknik kimia, yang produk jadinya tidak dapat di klaim bahwa itu kita yang membuatnya, sebuah aplikasi web atau mobile dapat dengan bangga kita perlihatkan kepada orang banyak.

Hal yang unik juga, Shabrina sebenarnya sempat mendapat tawaran menjadi data scientist tepat sebelum ia memutuskan untuk bergabung dengan Hacktiv8. Tawaran tersebut akhirnya ditolak dengan alasan ingin memperdalam pengetahuannya sebagai developer terlebih dahulu.

Pengalaman Shabrina mengenal komputer pertama kali ketika mendapatkan hadiah ulang tahun dari orangtua berupa komputer dengan sistem operasi DOS (Disk Operating System) di sekitar tahun 2000-an. Setelah melewati masa-masa SMP dan SMA, komputer, khususnya programming kembali masuk kedalam kehidupan Shabrina. Kala itu komputer digunakan untuk keperluan scientific dan eksperimen dengan Python , C++ dan Fortran 77 sebagai bahasa pemrogramannya.

Alasan Shabrina menyukai coding adalah ketika mencari solusi atas sebuah masalah yang didapat. Bagaimana mencari logika untuk memecahkan sebuah masalah merupakan proses yang paling dinikmatinya.

VIM merupakan code editor andalan Shabrina sejak kuliah. Alasannya sederhana, karena pada waktu mencoba sistem operasi Linux pertama kali ia tidak tahu pilihan code editor selain VIM. Jadilah VIM menjadi andalan hingga saat ini. Yang menarik, Shabrina tidak mengetahui bahwa VIM memiliki plugin yang bisa digunakan untuk memperkaya fiturnya. Ia baru mengetahui bahwa ada plugin dan themes untuk VIM ketika bergabung dengan Hacktiv8 ketika melihat salah satu instruktur Hacktiv8 menggunakan VIM yang tampilannya berbeda.

Tips Untuk Developer

  • Banyak baca dan terus belajar
  • Mengamati dan belajar bagaimana expert bekerja

Rekomendasi Buku

Kontak

Tech Stack

Sponsor